Kontak

Kontak : nyaahkaalam@gmail.com

Jumat, 01 Mei 2026

RASAMALA (bahasa Latin: Altingia excelsa)

 Pohon rasamala adalah salah satu jenis pohon yang dapat ditemukan di beberapa daerah di Indonesia, seperti Pulau Jawa, Kalimantan, dan Sumatera. Beberapa sumber menyebutkan bahwa pohon ini berasal dari pegunungan Himalaya hingga kemudian menyebar ke wilayah Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Di Indonesia sendiri, pohon rasamala sangat umum ditemukan di Jawa Barat, khususnya di Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Kayu rasamala memiliki nama yang berbeda-beda sesuai dengan daerah asalnya. Di Kalimantan, kayu rasamala dikenal dengan nama Raksamala atau Ra’samala, sementara di Sumatera Utara lebih populer dengan nama Tulason. Di dataran Sunda, pohon rasamala sering dinamai dengan istilah Gadog.

Meskipun pohon rasamala dapat ditemukan di beberapa daerah di Indonesia, namun pohon ini masih jarang diketahui oleh masyarakat luas. Oleh karena itu, perlu adanya upaya untuk mengenalkan dan menjaga keberlangsungan pohon rasamala di Indonesia agar dapat dijadikan salah satu sumber daya alam yang berharga bagi masa depan.

Pohon rasamala adalah salah satu jenis pohon yang dapat ditemukan di beberapa daerah di Indonesia, termasuk Jawa, Kalimantan, dan Sumatera. Pohon ini dikenal sebagai salah satu pohon yang tumbuh dengan ketinggian yang cukup tinggi, yaitu sekitar 40 hingga 60 meter, dan memiliki cabang bebas sekitar 20 hingga 35 meter. Ukuran diameter batang pohon rasamala berkisar antara 80 hingga 150 cm.

Pohon rasamala umumnya mendominasi bagian hutan pegunungan bawah bersama dengan jenis tumbuhan lain seperti Puspa (Schima wallichii) dan Pasang (Quercus spp. dan Lithocarpus spp.). Perawatan pohon rasamala cukup mudah, tidak perlu perawatan ekstra, sehingga sering digunakan sebagai dekorasi dalam aquascape.

Kayu rasamala yang sudah kering tidak mengeluarkan zat tanin dalam jumlah besar dan tampak berlekuk-lekuk dengan ukuran yang cenderung ramping. Kulit pohon rasamala memiliki tekstur halus dengan warna abu-abu. Pada pohon rasamala yang masih muda, tajuknya rapat dengan bentuk seperti segitiga atau pyramid, kemudian akan semakin membulat seiring dengan bertambah usianya.

Kayu rasamala memiliki warna coklat kemerahan atau kecoklatan, tekstur yang halus dan rata, serta sifat yang kuat dan keras. Kayu ini dapat digunakan untuk berbagai keperluan karena memiliki tingkat keawetan kelas II. Pohon ini juga dapat tumbuh dengan baik di daerah dengan iklim tropis dan subtropis.

Selain digunakan sebagai bahan konstruksi, kayu rasamala juga memiliki beberapa manfaat lain yang dapat dimanfaatkan oleh manusia.
1. Manfaat Akar Kayu Rasamala
Akar kayu rasamala sering digunakan sebagai hiasan dekorasi dalam aquarium atau taman karena memiliki bentuk yang indah. Akar pohon rasamala juga dapat digabungkan dengan jenis dedaunan untuk menciptakan tampilan yang lebih indah.
2. Manfaat Daun Rasamala
Daun rasamala dapat dimanfaatkan sebagai lalapan dan bahan baku obat herbal karena dapat mengurangi gejala batuk.
3. Manfaat Getah Pohon Rasamala
Getah pohon rasamala digunakan sebagai bahan baku untuk membuat parfum ruangan karena aroma yang harum.
4. Manfaat Batang Kayu Rasamala
Kayu rasamala kuat dan keras, sehingga sering digunakan sebagai bahan jembatan, tiang listrik, rangka atap rumah, bahkan bantalan kereta api.
5. Manfaat Pohon Rasamala
Pohon rasamala dikenal sebagai pohon yang dapat mendukung program reboisasi, bahkan pohon ini digunakan sebagai jenis pohon utama dalam program reboisasi di Jawa Barat. Pohon rasamala dapat mengakomodasi jenis pohon lain dengan jarak yang rapat.

Morfologi Kayu RasamalaMengenal Kayu Rasamala Manfaat

Pohon Rasamala merupakan salah satu jenis pohon yang dapat ditemukan di beberapa daerah di Indonesia. Pohon ini dikenal sebagai pohon yang selalu hijau atau evergreen dan memiliki morfologi yang unik.

1. Daun Rasamala
Daun pohon rasamala berbentuk lanset atau jorong dengan letak bergiliran, berwarna hijau tua dan memiliki ujung yang runcing. Daun pohon rasamala tumbuh secara berselingan di cabang-cabang pohon dengan panjang yang bervariasi mulai dari 5 hingga 15 cm dan lebar 2,5-5 cm. Daun pohon rasamala memiliki permukaan yang licin dan tersusun secara simetris di sepanjang tepi daunnya.

2. Bunga Rasamala
Pohon rasamala memiliki bunga yang berwarna krem kekuningan berupa papila. Bunga rasamala tidak mempunyai kelopak dan mahkota. Bunga ini berukuran kecil dengan dihiasi benang sari yang banyak. Bunga pohon rasamala tumbuh secara berkelompok di ujung cabang pohon dan memiliki aroma yang khas yang dapat menyebar hingga jarak yang cukup jauh. Bunga pohon rasamala juga dikenal sebagai salah satu jenis bunga yang dapat menarik banyak serangga untuk bertelur dan berkembang biak di sekitarnya.Mengenal Kayu Rasamala Manfaat
3. Buah Rasamala
Pohon rasamala memiliki buah yang berwarna kecoklatan, berbentuk bulat atau oval dan memiliki ukuran diameter yang kecil mulai dari 1,2 cm sampai 2,5 cm. Buah pohon rasamala tumbuh secara berkelompok di ujung cabang pohon dan memiliki kulit yang tipis dan mudah pecah saat dipetik. Buah pohon rasamala memiliki daging buah yang berwarna kuning kemerahan dan memiliki rasa yang manis dan asam. Ciri khas dari buah pohon rasamala ini terlihat dari bijinya yang pipih dan bersayap di sekelilingnya.Mengenal Kayu Rasamala Manfaat
Pohon Rasamala memiliki banyak keunikan dari segi morfologi, mulai dari daun, bunga, hingga buahnya. Keunikan tersebut menjadikan pohon ini menarik untuk dibudidayakan dan dikembangkan. Pemanfaatan pohon rasamala harus dilakukan dengan cara yang baik dan benar agar tidak merusak ekosistem hutan dan menjamin ketersediaan pohon rasamala di masa depan.

Saninten

 Pohon Saninten (Castanopsis argentea Blume A.DC)

Adalah tumbuhan pohon asli Indonesia yang keberadaannya sudah langka. Saninten, nama lainnya yakni Berangan memiliki daun tunggal berseling, berbentuk lancip memanjang (lanset). Permukaan daun berlilin dan bagian bawahnya berwarna abu-abu keperakan ditutupi bulu-bulu menyerupai bintang atau sisik yang lebat. memiliki tinggi 35 hingga 40 meter. Kulit batangnya berwarna hitam, kasar dan pecah-pecah dengan permukaan tidak rata. Terdapat alur-alur memanjang pada batang yang tak lain adalah garis empulur yang menonjol keluar.

Pohon saninten secara umum tumbuh dan menyebar di wilayah Sumatra dan Jawa. Habitat atau tempat tumbuh saninten berada di hutan primer atau sekunder tua, sering di tanah kering atau subur, pada kisaran ketinggian 150 hingga 1.400 m. (ITTO, 2017) 
Saninten merupakan salah satu pohon yang sulit ditemukan permudaan alaminya karena populasinya yang sangat sedikit, sedangkan buahnya disukai oleh satwa liar dan masyarakat sekitar untuk dikonsumsi (Heriyanto et al. 2007).  Biji Saninten biasanya diolah secara sederhana. Bisa direbus atau dibakar hingga lunak durinya. Bisa juga cangkang bijinya dipecahkan, lalu diambil bagian dalamnya untuk disangrai, sedikit diberi garam dan mentega serta bernilai ekonomis tinggi juga. Meskipun rasa buahnya istimewa tapi sangat sulit mendapatkan buah ini karena saingannya banyak, ada Lutung, Monyet, Musang dan hewan pemakan buah-buahan lainnya.

Selain itu, Saninten juga berbuah dua tahun sekali. Kalaupun berbuah setiap tahun, biasanya berselang setahun buahnya kosong. Baru setahun kemudian berisi buahnya. Berarti anakan Saninten dari pohon induknya sulit didapat karena masa berbuahnya lama. Ditambah lagi tiap bijinya ludes di makan pemangsa. Padahal biji tersebut merupakan cikal bakal anakan. Kalau begitu, tak salah bila Lembaga Ilmu Penelitian Indonesia (LIPI) menyatakan tumbuhan ini langka.

Itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa pohon Saninten kini dilindungi. Tak heran bila Pemerintah tegas dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan nomor 92 tahun 2018. Regulasi tersebut menyertakan Saninten sebagai salah satu jenis tumbuhan yang kini dilindungi. Juga tercantum dalam Daftar Merah Spesies Terancam IUCN pada tahun 2017 terdaftar sebagai Terancam Punah berdasarkan kriteria A2c. Jadi, sekarang Saninten statusnya dilindungi baik di dalam dan di luar kawasan hutan. Lalu, apakah buah Saninten juga tidak boleh dikonsumsi lagi? Menurut Peraturan Menteri Kehutanan nomor 35 tahun 2007, buah Saninten termasuk salah satu jenis komoditas hasil hutan bukan kayu yang diperkenankan untuk pemanfaatannya.
Klasifikasi
  • Kingdom: Plantae
  • Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
  • Kelas: Magnoliopsida (Berkeping dua/dikotil)
  • Ordo: Fagales
  • Famili: Fagaceae (Suku pasang-pasangan)
  • Genus: Castanopsis
  • Spesies: Castanopsis argentea (Blume) A.DC.
  • Sinonim: Castanea argentea Blume


  • Saninten menjadi salah satu koleksi tanaman pada arboretum Nyaah ka alam, merupakan aksi konservasi ex-situ.

    Rabu, 11 Februari 2026

    Perempuan Berdaya dalam Ekonomi Lestari Budidaya Lebah Teuweul

    Di Desa Gunung Tanjung, budidaya lebah teuweul bukan hanya tentang menghasilkan madu. Ia menjadi gerakan terpadu yang menghubungkan ekonomi keluarga, kesehatan anak, dan kelestarian hutan dalam satu ekosistem pemberdayaan perempuan.

    Melalui inisiatif kelompok perempuan, Nyaah ka Alam mendorong ibu rumah tangga untuk terlibat aktif dalam usaha berbasis sumber daya alam berkelanjutan, sekaligus menghadirkan solusi nyata untuk persoalan kesejahteraan dan kesehatan keluarga. Kegiatan ini adalah bagian program Ripple Accelerator - Women's Earth Alliance yang diinisiasi oleh anggota aliansinya yaitu Irma Fatmayanti Cohort 2021. 

      


    🐝 Madu: Sumber Gizi Alami untuk Keluarga

    Salah satu manfaat utama budidaya lebah teuweul adalah produksi madu alami yang kaya nutrisi. Madu mengandung:

    • Karbohidrat alami sebagai sumber energi

    • Antioksidan

    • Enzim dan senyawa antibakteri

    • Mineral dan mikronutrien penting

    Bagi keluarga di desa, ketersediaan madu lokal berkualitas dapat menjadi alternatif pemanis sehat sekaligus suplemen alami yang menunjang daya tahan tubuh.

    Dalam konteks pencegahan stunting, akses terhadap pangan bergizi menjadi faktor krusial. Stunting bukan hanya soal tinggi badan anak, tetapi dampak jangka panjang dari kekurangan gizi kronis yang memengaruhi perkembangan kognitif dan kesehatan masa depan.

    Melalui program ini:

    • Ibu rumah tangga memiliki akses langsung terhadap produk bergizi.

    • Pendapatan tambahan dari madu membantu keluarga memenuhi kebutuhan pangan bergizi lainnya.

    • Edukasi gizi dapat diintegrasikan dalam kegiatan kelompok perempuan.

    Dengan demikian, budidaya lebah tidak hanya meningkatkan ekonomi, tetapi juga berkontribusi pada SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, khususnya dalam mendukung upaya penurunan angka stunting.

      

    🌿 Ekonomi Lestari yang Menjaga Hutan

    Lebah hanya dapat berkembang di lingkungan yang sehat. Artinya, keberhasilan usaha ini sangat bergantung pada:

    • Keberadaan tanaman berbunga

    • Tutupan lahan yang terjaga

    • Ekosistem hutan yang berfungsi baik

    Hal ini menciptakan insentif ekonomi bagi masyarakat untuk menjaga dan memperluas vegetasi. Program ini secara langsung mendukung:

    • SDG 13 – Penanganan Perubahan Iklim, melalui peningkatan vegetasi dan daya serap karbon

    • SDG 15 – Ekosistem Darat, melalui penguatan praktik Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK)

    Semakin lestari hutannya, semakin produktif lebahnya. Semakin produktif lebahnya, semakin sejahtera keluarganya.


    👩‍🌾 Dampak Multidimensi Program

    1️⃣ Dampak Kesehatan & Gizi

    • Meningkatnya akses keluarga terhadap madu alami bergizi

    • Potensi penguatan daya tahan tubuh anak

    • Integrasi edukasi gizi dalam kelompok perempuan

    • Kontribusi tidak langsung pada pencegahan stunting melalui peningkatan asupan dan daya beli pangan sehat

    2️⃣ Dampak Ekonomi

    • Lapangan pekerjaan sekunder bagi 20 ibu rumah tangga

    • Sumber pendapatan tambahan berkelanjutan

    • Tumbuhnya kewirausahaan perempuan berbasis alam

    3️⃣ Dampak Sosial

    • Terbentuknya ruang aman bagi perempuan untuk belajar dan berkembang

    • Meningkatnya kepercayaan diri dan posisi tawar perempuan

    • Solidaritas dan ketahanan sosial desa yang lebih kuat

    4️⃣ Dampak Lingkungan

    • Meningkatnya penutupan lahan

    • Konservasi berbasis insentif ekonomi

    • Optimalisasi potensi Hasil Hutan Bukan Kayu


    🌱 Lebah sebagai Strategi Terpadu Desa Tangguh

    Budidaya lebah teuweul menunjukkan bahwa solusi pembangunan desa tidak harus eksploitatif. Dengan pendekatan yang tepat, alam bisa dijaga sekaligus dimanfaatkan secara bijak.

    Di Gunung Tanjung, lebah menjadi jembatan antara:

    • Perempuan yang berdaya

    • Anak-anak yang lebih sehat

    • Keluarga yang lebih sejahtera

    • Hutan yang tetap lestari

    Karena pada akhirnya, mencegah stunting bukan hanya soal intervensi medis—
    tetapi juga tentang memperkuat ekonomi keluarga, meningkatkan akses gizi, dan menjaga lingkungan tempat anak-anak tumbuh.

    Dan di sana, dengung lebah menjadi suara perubahan. 



                                        



                                                                                  

     

    Ripple Accelerator





    Lebih dekat dengan founder dan ketua Nyaah ka Alam

     



    🌿 Irma Fatmayanti: Membangun Gerakan Cinta Alam dari Komunitas

    Di tengah tantangan perubahan iklim dan degradasi lingkungan, muncul sosok-sosok yang tak sekadar peduli, tapi beraksi nyata untuk menjaga bumi tetap lestari. Salah satunya adalah Irma Fatmayanti, seorang aktivis lingkungan yang memilih langkah kecil sebagai gerakan besar melalui komunitas bernama Nyaah Ka Alam.

    Berangkat dari Kepedulian yang Mendalam

    Irma tidak lahir dengan label “aktivis lingkungan”; perjalanan itu dibentuk dari kesadaran atas kondisi alam di sekitarnya yang semakin rapuh. Bagi Irma, alam bukan sekadar latar belakang kehidupan, tetapi bagian tak terpisahkan dari keseharian manusia. Dari pemikiran inilah ia membangun Nyaah Ka Alam — sebuah upaya memberi makna baru terhadap hubungan antara manusia dan alam.

    Nama Nyaah Ka Alam sendiri membawa semangat kuat: “menyayangi alam” dalam setiap langkah nyata, bukan sekadar retorika.

    🌱 Pendekatan Konservasi yang Berakar di Komunitas

    Beda dengan gerakan lingkungan yang sering tampil besar di panggung nasional, Irma memilih jalur yang lebih dalam, personal, dan partisipatif: konservasi berbasis komunitas. Ia mengajak warga untuk belajar langsung dari alam, bukan hanya teorinya.

    Nyaah Ka Alam mengembangkan ruang-ruang belajar terbuka yang disebut arboretum atau taman konservasi mini, yang menjadi pusat edukasi tentang keanekaragaman hayati dan ekosistem lokal. Di sana, masyarakat—terutama anak muda—bisa merasakan, menyentuh, dan memahami alam sebagai guru yang memberi pelajaran tak ternilai.

    🎓 Pemberdayaan Melalui Pendidikan & Kolaborasi

    Bagi Irma, konservasi sejati adalah saat ilmu dan aksi berpadu. Program-program yang digagas Nyaah Ka Alam tidak sekadar menanam pohon, tetapi juga mengajak orang untuk:

    • Memahami pentingnya keanekaragaman hayati

    • Mengetahui hubungan antara aktivitas manusia dan perubahan iklim

    • Melatih keterampilan langsung seperti pembuatan persemaian tanaman, praktik pemeliharaan lingkungan, dan monitoring ekosistem

    Selain itu, Irma juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas pihak—dari warga desa, instansi pemerintah, hingga jaringan organisasi lingkungan lain.

    🏅 Penghargaan dan Pengakuan untuk Dedikasi Nyata

    Komitmen Irma dalam konservasi lingkungan telah diakui secara formal. Ia mendapatkan beberapa prestasi penting, termasuk:

    • 🥇 Juara 1 Lomba Wana Lestari 2023 tingkat Cabang Dinas Kehutanan Wilayah VI Jawa Barat, kategori Kader Konservasi Alam

    • 🥉 Juara 3 Lomba Wana Lestari 2023 tingkat Provinsi Jawa Barat, kategori Kader Konservasi Alam

    Selain prestasi tersebut, Irma juga memperoleh pengakuan sebagai Kader Konservasi Alam Tingkat Madya dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Jawa Barat—sebuah bukti konkret atas kompetensi dan komitmennya dalam upaya pelestarian lingkungan.

    🌍 Jejaring Global: Women’s Earth Alliance (WEA) 2021

    Tidak hanya berkiprah di level lokal, Irma juga pernah terpilih mengikuti Women’s Earth Alliance (WEA) Grassroots Accelerator pada tahun 2021. Program internasional ini mendukung perempuan pemimpin lingkungan dari berbagai negara untuk memperkuat kapasitas, memperluas jejaring, dan mengembangkan solusi inovatif terhadap tantangan ekologis. Pengalaman ini memperkuat langkah Irma dalam memperluas dampak gerakannya sekaligus membuka ruang kolaborasi global.

    💬 Menjadi Bagian dari Solusi

    Irma sering menyampaikan bahwa menjaga alam bukan tanggung jawab satu orang atau satu komunitas saja. Melalui pendekatan edukatif, kelompok belajar berbasis alam, dan aksi nyata di lapangan, ia membangun gerakan yang mengajak setiap individu untuk menjadi bagian dari solusi.

    Baginya, alam adalah ruang hidup bersama — yang perlu dirawat dengan kesadaran, ilmu, dan rasa sayang.


    🌟 Pesan untuk Pembaca

    Irma Fatmayanti menunjukkan bahwa aksi kecil yang konsisten bisa menjadi kekuatan besar dalam menjaga bumi. Ketika kita melihat alam bukan hanya sebagai sumber daya, tetapi sebagai ruang hidup yang harus dihormati dan dirawat, perubahan itu dimulai dari diri sendiri — dan terus menyebar kepada komunitas yang lebih luas.



    Jumat, 26 Desember 2025

    Dipterocarpus gracilis

     Keruing Keladan/Pelahlar Beurit/Wuluk Bulan

    Keruing keladan merupakan tumbuhan berbentuk pohon dari famili Dipterocarpaceae. Tumbuhan yang dikenal dengan nama ilmiah Dipterocarpus gracilis ini berasal dari bioma beriklim tropis basah dengan rentang sebaran mulai dari Assam hingga kawasan Malesia bagian barat dan tengah. Di Indonesia keruing keladan memiliki beberapa nama, antara lain ada yang menyebutnya wuluk bulan (Jawa), atau damar kacawai (Sumatra). Nama ilmiah Dipterocarpus gracilis pertama kali dipublikasikan oleh botanis Carl Ludwig Blume pada tahun 1825.

    Disamping tumbuh secara alami di pulau Jawa, spesies ini juga tersebar di bagian Sumatra Utara (Lho Soumawe, Simalur, Singkel) dan Kalimantan Timur (Tarakan, Pulau Nunukan, Bulungan, Berau, Kutei Timur, Balikpapan), Kalimantan Tengah Selatan (Sampit), Kalimantan Barat (Kapuas Hulu) (Botani Hutan, 1974, 1978; Whitmore and Tantra, 1986; Soerianegara and Lemmens, 1994).

    Tempat tumbuh D.gracilis tersebar atau berkelompok dalam hutan alam yang selalu hijau atau agak selalu hijau, pada bermacam-macam tempat tumbuh, pada tanah liat atau pasir, pada ketinggian sampai 500 m dan kadang-kadang dapat mencapai 800 m di atas permukaan laut. 

    Pohon biasanya memiliki batang yang besar dan lurus dengan tinggi bisa mencapai 50 m, batang bebas cabang 25-35 m, diamneter batang mencapai 100 cm atau lebih, dan tinggi banir mecapai 2 m. Kulit kayu kasar, mengelupas besar-besar, berwarna kuning coklat, bagian dalamnya kuning muda. Daun tunggal, berbentuk elips atay bulat panjang dengan ujung runcing dan pangkal daun membulat, ukuran helaian daun panjang 10-18 cm, lebar 5,5-12 cm. Permukaan helaian daun bagian atas licin, mengkilap, bagian bawah berbulu, ujung tangkai daun membengkok, panjang tangkai daun 2-3 cm.  Bunga pohon ini biasanya berwarna putih atau kuning, dua kelopak bunga tumbuh berbentuk sayap yang panjang 10-13 cm, sedangkan 3 kelopak bunga lainnya berbentuk bulat sampai bulat panjang yang kecil. Buah diliputi kelopak bunga yang berbentuk tabung dengan membulat dibagian pangkal, buah berukuran panjang 1,3 cm, lebar 1,6 cm dan tangkai buah panjang 1,5-3 cm. Damar warna putih, agak kuning atau kuning muda.

    Kayunya termasuk salah satu spesies kayu pertukangan yang mempunyai kelas awet III-IV, Berat Jenis 0,73. Spesies ini telah dimanfaatkan untuk berbagai keperluan mulai dari atap bangunan, lantai rumah, tiang rumah, alat rumah tangga, kusen pintu dan jendela, jembatan, darmaga pelabuhan, dan perahu. Selain penghasil kayu, D.gracilis Blume menghasilkan minyak keruing yang secara lokal dimanfaatkan untuk obor, minyak cat dan menambal perahu. Kulit batang dapat sebagai tonik/obat kuat yaitu air rebusan kulit batang diminum untuk menyembuhkan penyakit rematik dan liver Soerianegara et al., 1994).

    Klasifikasi
    Kingdom: Plantae
    Subkingdom: Tracheobionta
    Superdivisi: Spermatophyta
    Divisi: Magnoliophyta
    Kelas: Magnoliopsida
    Subkelas: Dilleniidae
    Ordo: Theales
    SpesiesDipterocarpus gracilis Blume




    Minggu, 21 Desember 2025

    Dipterocarpus retusus

    Keruing Gunung/Pelahlar

    Salah satu jenis pohon koleksi arboretum Nyaah ka Alam adalah Dipterocarpus retusus dengan nama lokal Keruing Gunung atau Pelahlar Minyak, yang merupakan salah satu jenis pohon niaga dari kelompok keruing. Jenis ini termasuk dalam suku merantimerantian Dipterocarpaceae. Pohonnya berbanir, tingginya mencapai 50 meter, garis tengah (diameter 150 meter). Batangnya tegak, lurus, dengan kulit luar yang berwarna abu-abu coklat dan mengelupas dalam kepingan besar.  

    Daunnya tunggal, besar sekali, berbentuk jorong, agak berbulu. Perbungaan malai. Buahnya agak bulat, bersayap panjang dua dan sayap pendek tiga. Jenis ini terdapat di India, Burma, Thailand, Semenanjung Malaya, Sumatra,Jawa, Sumba, Sumbawa dan Timor. Tempat tumbuhnya hutan primer atau belukar tua, pada tanah liat, berpasir atau berbatu disepanjang sungai ataupun di tempat kering. Di daerah beriklim basah jenis ini tumbuh pada ketinggian 800-1300 meter di atas permukaan laut, sedangkan di daerah beriklim kering dapat tumbuh pada ketinggian 100 meter. Masa berbunga terjadi pada bulan Februari, Juni, September dan November dan masa berbuah pada bulan Januari, Februari, September dan November.

    Kayu gubalnya tebal dan berwarna putih kekuningan sampai kuning tua. Keawetan dan kekuatan kayunya digolongkan dalam kelas III dan II, dan berat jenisnya 0,73.Kayu Pelahlar dapat dipakai sebagai bahan bangunan rumah, perahu dan kadang-kadang alat rumah tangga. Jenis ini belum pernah dibudidayakan kecuali penanaman beberapa pohon di Kebun Raya Bogor.

    Selain dimanfaatkan kayunya keruing juga menghasilkan semacam oleoresin yang dikenal sebagai minyak keruing atau minyak lagan, akan tetapi hanya beberapa jenis saja yang mampu berproduksi dalam jumlah yang berarti untuk perdagangan. Secara local minyak ini digunakan untuk memakal (mendempul) perahu, sebagai pernis perabotan rumah atau dinding, serta sebagai obat luka atau sakit kulit tertentu. 

    Status kelangkaan Dipterrocarpus retusus  Blume dalam IUCN Red List termasuk kategori Vulnerable (VU; Rentan) yang berarti spesies ini menghadapi resiko kepunahandi alam liar di waktuyangakan datang. 

    Klasifikasi

    Kingdom: Plantae
    Subkingdom: Tracheobionta
    Superdivisi: Spermatophyta
    Divisi: Magnoliophyta
    Kelas: Magnoliopsida
    Subkelas: Dilleniidae
    Ordo: Theales
    SpesiesDipterocarpus retusus Blume        

    Kamis, 18 Desember 2025

    RIMBUN ASA

     

    RIMBUN ASA: Dari Bibit Menuju Harapan

    "Kecil saat ditanam, besar saat dihayati"

    TASIKMALAYA – Bumi tidak hanya membutuhkan mereka yang sekadar berharap, tetapi lebih banyak tangan yang mau menanam. Semangat inilah yang melandasi komunitas Nyaah ka Alam saat menggelar aksi nyata bertajuk "Rimbun Asa: Aksi Penanaman dan Pelatihan Pembibitan Pohon Langka".


    Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 22 November 2025 ini, dipusatkan di Arboretum Pasir Bakukung, Dusun Serajaya, Desa Gunung Tanjung, Kabupaten Tasikmalaya. Langkah ini menjadi kontribusi nyata dalam mendukung target Indonesia’s FOLU Net Sink 2030—sebuah upaya nasional untuk melindungi keanekaragaman hayati, bahkan di luar kawasan konservasi formal.

    Menghidupkan Kembali yang Mulai Hilang

    Dalam aksi ini, sebanyak 300 batang bibit dari 40 jenis pohon ditanam. Tidak hanya menanam, peserta juga dibekali ilmu melalui pelatihan pembibitan generatif (menggunakan biji). Mulai dari biji berukuran besar seperti Ulin dan Saninten, hingga biji kecil seperti Rukam dan Serikaya.

    Upaya ini merupakan metode pelestarian ex situ, yakni menjaga keberadaan flora di luar habitat aslinya. Arboretum Nyaah ka Alam kini berdiri sebagai "museum pohon" hidup yang telah mengoleksi lebih dari 60 jenis pohon dengan total lebih dari 500 batang, yang mayoritasnya merupakan spesies langka dan sulit ditemukan di alam liar.

    Mengenal "Langka" dan Pentingnya Pembibitan

    Secara harfiah, kata "Langka" merujuk pada sesuatu yang jarang ditemui dan memiliki nilai keunikan tinggi. Dalam dunia botani, pohon langka adalah spesies yang populasinya menurun drastis atau persebarannya sangat terbatas (endemik).

    Untuk melawan kepunahan tersebut, proses pembibitan menjadi kunci. Melalui teknik generatif (perkawinan seksual tumbuhan), dihasilkan bibit dengan sistem perakaran yang kuat dan daya tahan penyakit yang tinggi. Proses yang dimulai dari penyemaian di media porous hingga pemeliharaan di bedeng sapih ini memastikan setiap pohon memiliki peluang hidup maksimal saat dipindahkan ke lahan permanen.





    Sinergi Multi-Pihak untuk Alam

    Keberhasilan acara ini tidak lepas dari kolaborasi 50 partisipan yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, kelompok perempuan, kader konservasi, hingga masyarakat setempat.

    Kegiatan ini juga mendapat dukungan penuh dari berbagai instansi terkait. Turut hadir memberikan apresiasi:

    ·       Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Cimanuk Citanduy.

    ·       Ketua Forum Komunikasi Pengelolaan DAS Citanduy.

    ·       FKPDAS Jawa Barat (Wilayah Ciamis).

    ·       Pemerintah Desa Gunung Tanjung.

    Melalui "Rimbun Asa", Nyaah ka Alam mengajak kita semua untuk menyadari bahwa setiap bibit yang kita tanam hari ini adalah oksigen dan warisan berharga bagi generasi masa depan. Karena menjaga alam bukan hanya soal ekologi, tapi soal menjaga harapan hidup itu sendiri.





    Tentang Arboretum Pasir Bakukung:
    Sebuah kawasan yang didedikasikan untuk penelitian, pendidikan, konservasi, dan rekreasi. Tempat di mana pohon-pohon langka dirawat agar tetap tegak berdiri menantang zaman.

    Tentang Kami

    CIREMAI

    Pohon ceremai (Phyllanthus acidus), dikenal juga dengan sebutan cereme atau cermai, merupakan perdu atau pohon kecil dengan ketinggian sampa...