RIMBUN ASA: Dari Bibit Menuju Harapan
"Kecil saat ditanam, besar saat
dihayati"
TASIKMALAYA – Bumi tidak hanya membutuhkan mereka yang sekadar
berharap, tetapi lebih banyak tangan yang mau menanam. Semangat inilah yang
melandasi komunitas Nyaah ka Alam saat menggelar aksi nyata
bertajuk "Rimbun Asa: Aksi Penanaman dan Pelatihan Pembibitan
Pohon Langka".
Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 22
November 2025 ini, dipusatkan di Arboretum Pasir Bakukung, Dusun
Serajaya, Desa Gunung Tanjung, Kabupaten Tasikmalaya. Langkah ini menjadi
kontribusi nyata dalam mendukung target Indonesia’s FOLU Net Sink 2030—sebuah
upaya nasional untuk melindungi keanekaragaman hayati, bahkan di luar kawasan
konservasi formal.
Menghidupkan Kembali yang Mulai Hilang
Dalam aksi ini, sebanyak 300 batang bibit dari
40 jenis pohon ditanam. Tidak hanya menanam, peserta juga dibekali ilmu melalui
pelatihan pembibitan generatif (menggunakan biji). Mulai dari biji berukuran
besar seperti Ulin dan Saninten, hingga biji kecil
seperti Rukam dan Serikaya.
Upaya ini merupakan metode pelestarian ex
situ, yakni menjaga keberadaan flora di luar habitat aslinya. Arboretum Nyaah
ka Alam kini berdiri sebagai "museum pohon" hidup yang telah
mengoleksi lebih dari 60 jenis pohon dengan total lebih dari 500 batang, yang
mayoritasnya merupakan spesies langka dan sulit ditemukan di alam liar.
Mengenal "Langka" dan Pentingnya
Pembibitan
Secara harfiah, kata "Langka"
merujuk pada sesuatu yang jarang ditemui dan memiliki nilai keunikan tinggi.
Dalam dunia botani, pohon langka adalah spesies yang populasinya menurun
drastis atau persebarannya sangat terbatas (endemik).
Untuk melawan kepunahan tersebut, proses
pembibitan menjadi kunci. Melalui teknik generatif (perkawinan seksual
tumbuhan), dihasilkan bibit dengan sistem perakaran yang kuat dan daya tahan
penyakit yang tinggi. Proses yang dimulai dari penyemaian di media porous hingga
pemeliharaan di bedeng sapih ini memastikan setiap pohon memiliki peluang hidup
maksimal saat dipindahkan ke lahan permanen.
Sinergi Multi-Pihak untuk Alam
Keberhasilan acara ini tidak lepas dari
kolaborasi 50 partisipan yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, kelompok
perempuan, kader konservasi, hingga masyarakat setempat.
Kegiatan ini juga mendapat dukungan penuh dari
berbagai instansi terkait. Turut hadir memberikan apresiasi:
·
Kepala
Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Cimanuk Citanduy.
·
Ketua
Forum Komunikasi Pengelolaan DAS Citanduy.
·
FKPDAS
Jawa Barat (Wilayah Ciamis).
·
Pemerintah
Desa Gunung Tanjung.
Melalui "Rimbun Asa", Nyaah ka Alam
mengajak kita semua untuk menyadari bahwa setiap bibit yang kita tanam hari ini
adalah oksigen dan warisan berharga bagi generasi masa depan. Karena menjaga
alam bukan hanya soal ekologi, tapi soal menjaga harapan hidup itu sendiri.
Tentang Arboretum Pasir Bakukung:
Sebuah kawasan yang didedikasikan untuk penelitian, pendidikan, konservasi, dan
rekreasi. Tempat di mana pohon-pohon langka dirawat agar tetap tegak berdiri
menantang zaman.
.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)

.jpeg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar