Kontak

Kontak : nyaahkaalam@gmail.com

Rabu, 11 Februari 2026

Perempuan Berdaya dalam Ekonomi Lestari Budidaya Lebah Teuweul

Di Desa Gunung Tanjung, budidaya lebah teuweul bukan hanya tentang menghasilkan madu. Ia menjadi gerakan terpadu yang menghubungkan ekonomi keluarga, kesehatan anak, dan kelestarian hutan dalam satu ekosistem pemberdayaan perempuan.

Melalui inisiatif kelompok perempuan, Nyaah ka Alam mendorong ibu rumah tangga untuk terlibat aktif dalam usaha berbasis sumber daya alam berkelanjutan, sekaligus menghadirkan solusi nyata untuk persoalan kesejahteraan dan kesehatan keluarga. Kegiatan ini adalah bagian program Ripple Accelerator - Women's Earth Alliance yang diinisiasi oleh anggota aliansinya yaitu Irma Fatmayanti Cohort 2021. 

  


🐝 Madu: Sumber Gizi Alami untuk Keluarga

Salah satu manfaat utama budidaya lebah teuweul adalah produksi madu alami yang kaya nutrisi. Madu mengandung:

  • Karbohidrat alami sebagai sumber energi

  • Antioksidan

  • Enzim dan senyawa antibakteri

  • Mineral dan mikronutrien penting

Bagi keluarga di desa, ketersediaan madu lokal berkualitas dapat menjadi alternatif pemanis sehat sekaligus suplemen alami yang menunjang daya tahan tubuh.

Dalam konteks pencegahan stunting, akses terhadap pangan bergizi menjadi faktor krusial. Stunting bukan hanya soal tinggi badan anak, tetapi dampak jangka panjang dari kekurangan gizi kronis yang memengaruhi perkembangan kognitif dan kesehatan masa depan.

Melalui program ini:

  • Ibu rumah tangga memiliki akses langsung terhadap produk bergizi.

  • Pendapatan tambahan dari madu membantu keluarga memenuhi kebutuhan pangan bergizi lainnya.

  • Edukasi gizi dapat diintegrasikan dalam kegiatan kelompok perempuan.

Dengan demikian, budidaya lebah tidak hanya meningkatkan ekonomi, tetapi juga berkontribusi pada SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, khususnya dalam mendukung upaya penurunan angka stunting.

  

🌿 Ekonomi Lestari yang Menjaga Hutan

Lebah hanya dapat berkembang di lingkungan yang sehat. Artinya, keberhasilan usaha ini sangat bergantung pada:

  • Keberadaan tanaman berbunga

  • Tutupan lahan yang terjaga

  • Ekosistem hutan yang berfungsi baik

Hal ini menciptakan insentif ekonomi bagi masyarakat untuk menjaga dan memperluas vegetasi. Program ini secara langsung mendukung:

  • SDG 13 – Penanganan Perubahan Iklim, melalui peningkatan vegetasi dan daya serap karbon

  • SDG 15 – Ekosistem Darat, melalui penguatan praktik Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK)

Semakin lestari hutannya, semakin produktif lebahnya. Semakin produktif lebahnya, semakin sejahtera keluarganya.


👩‍🌾 Dampak Multidimensi Program

1️⃣ Dampak Kesehatan & Gizi

  • Meningkatnya akses keluarga terhadap madu alami bergizi

  • Potensi penguatan daya tahan tubuh anak

  • Integrasi edukasi gizi dalam kelompok perempuan

  • Kontribusi tidak langsung pada pencegahan stunting melalui peningkatan asupan dan daya beli pangan sehat

2️⃣ Dampak Ekonomi

  • Lapangan pekerjaan sekunder bagi 20 ibu rumah tangga

  • Sumber pendapatan tambahan berkelanjutan

  • Tumbuhnya kewirausahaan perempuan berbasis alam

3️⃣ Dampak Sosial

  • Terbentuknya ruang aman bagi perempuan untuk belajar dan berkembang

  • Meningkatnya kepercayaan diri dan posisi tawar perempuan

  • Solidaritas dan ketahanan sosial desa yang lebih kuat

4️⃣ Dampak Lingkungan

  • Meningkatnya penutupan lahan

  • Konservasi berbasis insentif ekonomi

  • Optimalisasi potensi Hasil Hutan Bukan Kayu


🌱 Lebah sebagai Strategi Terpadu Desa Tangguh

Budidaya lebah teuweul menunjukkan bahwa solusi pembangunan desa tidak harus eksploitatif. Dengan pendekatan yang tepat, alam bisa dijaga sekaligus dimanfaatkan secara bijak.

Di Gunung Tanjung, lebah menjadi jembatan antara:

  • Perempuan yang berdaya

  • Anak-anak yang lebih sehat

  • Keluarga yang lebih sejahtera

  • Hutan yang tetap lestari

Karena pada akhirnya, mencegah stunting bukan hanya soal intervensi medis—
tetapi juga tentang memperkuat ekonomi keluarga, meningkatkan akses gizi, dan menjaga lingkungan tempat anak-anak tumbuh.

Dan di sana, dengung lebah menjadi suara perubahan. 



                                    



                                                                              

 

Ripple Accelerator





Lebih dekat dengan founder dan ketua Nyaah ka Alam

 



🌿 Irma Fatmayanti: Membangun Gerakan Cinta Alam dari Komunitas

Di tengah tantangan perubahan iklim dan degradasi lingkungan, muncul sosok-sosok yang tak sekadar peduli, tapi beraksi nyata untuk menjaga bumi tetap lestari. Salah satunya adalah Irma Fatmayanti, seorang aktivis lingkungan yang memilih langkah kecil sebagai gerakan besar melalui komunitas bernama Nyaah Ka Alam.

Berangkat dari Kepedulian yang Mendalam

Irma tidak lahir dengan label “aktivis lingkungan”; perjalanan itu dibentuk dari kesadaran atas kondisi alam di sekitarnya yang semakin rapuh. Bagi Irma, alam bukan sekadar latar belakang kehidupan, tetapi bagian tak terpisahkan dari keseharian manusia. Dari pemikiran inilah ia membangun Nyaah Ka Alam — sebuah upaya memberi makna baru terhadap hubungan antara manusia dan alam.

Nama Nyaah Ka Alam sendiri membawa semangat kuat: “menyayangi alam” dalam setiap langkah nyata, bukan sekadar retorika.

🌱 Pendekatan Konservasi yang Berakar di Komunitas

Beda dengan gerakan lingkungan yang sering tampil besar di panggung nasional, Irma memilih jalur yang lebih dalam, personal, dan partisipatif: konservasi berbasis komunitas. Ia mengajak warga untuk belajar langsung dari alam, bukan hanya teorinya.

Nyaah Ka Alam mengembangkan ruang-ruang belajar terbuka yang disebut arboretum atau taman konservasi mini, yang menjadi pusat edukasi tentang keanekaragaman hayati dan ekosistem lokal. Di sana, masyarakat—terutama anak muda—bisa merasakan, menyentuh, dan memahami alam sebagai guru yang memberi pelajaran tak ternilai.

🎓 Pemberdayaan Melalui Pendidikan & Kolaborasi

Bagi Irma, konservasi sejati adalah saat ilmu dan aksi berpadu. Program-program yang digagas Nyaah Ka Alam tidak sekadar menanam pohon, tetapi juga mengajak orang untuk:

  • Memahami pentingnya keanekaragaman hayati

  • Mengetahui hubungan antara aktivitas manusia dan perubahan iklim

  • Melatih keterampilan langsung seperti pembuatan persemaian tanaman, praktik pemeliharaan lingkungan, dan monitoring ekosistem

Selain itu, Irma juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas pihak—dari warga desa, instansi pemerintah, hingga jaringan organisasi lingkungan lain.

🏅 Penghargaan dan Pengakuan untuk Dedikasi Nyata

Komitmen Irma dalam konservasi lingkungan telah diakui secara formal. Ia mendapatkan beberapa prestasi penting, termasuk:

  • 🥇 Juara 1 Lomba Wana Lestari 2023 tingkat Cabang Dinas Kehutanan Wilayah VI Jawa Barat, kategori Kader Konservasi Alam

  • 🥉 Juara 3 Lomba Wana Lestari 2023 tingkat Provinsi Jawa Barat, kategori Kader Konservasi Alam

Selain prestasi tersebut, Irma juga memperoleh pengakuan sebagai Kader Konservasi Alam Tingkat Madya dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Jawa Barat—sebuah bukti konkret atas kompetensi dan komitmennya dalam upaya pelestarian lingkungan.

🌍 Jejaring Global: Women’s Earth Alliance (WEA) 2021

Tidak hanya berkiprah di level lokal, Irma juga pernah terpilih mengikuti Women’s Earth Alliance (WEA) Grassroots Accelerator pada tahun 2021. Program internasional ini mendukung perempuan pemimpin lingkungan dari berbagai negara untuk memperkuat kapasitas, memperluas jejaring, dan mengembangkan solusi inovatif terhadap tantangan ekologis. Pengalaman ini memperkuat langkah Irma dalam memperluas dampak gerakannya sekaligus membuka ruang kolaborasi global.

💬 Menjadi Bagian dari Solusi

Irma sering menyampaikan bahwa menjaga alam bukan tanggung jawab satu orang atau satu komunitas saja. Melalui pendekatan edukatif, kelompok belajar berbasis alam, dan aksi nyata di lapangan, ia membangun gerakan yang mengajak setiap individu untuk menjadi bagian dari solusi.

Baginya, alam adalah ruang hidup bersama — yang perlu dirawat dengan kesadaran, ilmu, dan rasa sayang.


🌟 Pesan untuk Pembaca

Irma Fatmayanti menunjukkan bahwa aksi kecil yang konsisten bisa menjadi kekuatan besar dalam menjaga bumi. Ketika kita melihat alam bukan hanya sebagai sumber daya, tetapi sebagai ruang hidup yang harus dihormati dan dirawat, perubahan itu dimulai dari diri sendiri — dan terus menyebar kepada komunitas yang lebih luas.



Jumat, 26 Desember 2025

Dipterocarpus gracilis

 Keruing Keladan/Pelahlar Beurit/Wuluk Bulan

Keruing keladan merupakan tumbuhan berbentuk pohon dari famili Dipterocarpaceae. Tumbuhan yang dikenal dengan nama ilmiah Dipterocarpus gracilis ini berasal dari bioma beriklim tropis basah dengan rentang sebaran mulai dari Assam hingga kawasan Malesia bagian barat dan tengah. Di Indonesia keruing keladan memiliki beberapa nama, antara lain ada yang menyebutnya wuluk bulan (Jawa), atau damar kacawai (Sumatra). Nama ilmiah Dipterocarpus gracilis pertama kali dipublikasikan oleh botanis Carl Ludwig Blume pada tahun 1825.

Disamping tumbuh secara alami di pulau Jawa, spesies ini juga tersebar di bagian Sumatra Utara (Lho Soumawe, Simalur, Singkel) dan Kalimantan Timur (Tarakan, Pulau Nunukan, Bulungan, Berau, Kutei Timur, Balikpapan), Kalimantan Tengah Selatan (Sampit), Kalimantan Barat (Kapuas Hulu) (Botani Hutan, 1974, 1978; Whitmore and Tantra, 1986; Soerianegara and Lemmens, 1994).

Tempat tumbuh D.gracilis tersebar atau berkelompok dalam hutan alam yang selalu hijau atau agak selalu hijau, pada bermacam-macam tempat tumbuh, pada tanah liat atau pasir, pada ketinggian sampai 500 m dan kadang-kadang dapat mencapai 800 m di atas permukaan laut. 

Pohon biasanya memiliki batang yang besar dan lurus dengan tinggi bisa mencapai 50 m, batang bebas cabang 25-35 m, diamneter batang mencapai 100 cm atau lebih, dan tinggi banir mecapai 2 m. Kulit kayu kasar, mengelupas besar-besar, berwarna kuning coklat, bagian dalamnya kuning muda. Daun tunggal, berbentuk elips atay bulat panjang dengan ujung runcing dan pangkal daun membulat, ukuran helaian daun panjang 10-18 cm, lebar 5,5-12 cm. Permukaan helaian daun bagian atas licin, mengkilap, bagian bawah berbulu, ujung tangkai daun membengkok, panjang tangkai daun 2-3 cm.  Bunga pohon ini biasanya berwarna putih atau kuning, dua kelopak bunga tumbuh berbentuk sayap yang panjang 10-13 cm, sedangkan 3 kelopak bunga lainnya berbentuk bulat sampai bulat panjang yang kecil. Buah diliputi kelopak bunga yang berbentuk tabung dengan membulat dibagian pangkal, buah berukuran panjang 1,3 cm, lebar 1,6 cm dan tangkai buah panjang 1,5-3 cm. Damar warna putih, agak kuning atau kuning muda.

Kayunya termasuk salah satu spesies kayu pertukangan yang mempunyai kelas awet III-IV, Berat Jenis 0,73. Spesies ini telah dimanfaatkan untuk berbagai keperluan mulai dari atap bangunan, lantai rumah, tiang rumah, alat rumah tangga, kusen pintu dan jendela, jembatan, darmaga pelabuhan, dan perahu. Selain penghasil kayu, D.gracilis Blume menghasilkan minyak keruing yang secara lokal dimanfaatkan untuk obor, minyak cat dan menambal perahu. Kulit batang dapat sebagai tonik/obat kuat yaitu air rebusan kulit batang diminum untuk menyembuhkan penyakit rematik dan liver Soerianegara et al., 1994).

Klasifikasi
Kingdom: Plantae
Subkingdom: Tracheobionta
Superdivisi: Spermatophyta
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Subkelas: Dilleniidae
Ordo: Theales
SpesiesDipterocarpus gracilis Blume




Minggu, 21 Desember 2025

Dipterocarpus retusus

Keruing Gunung/Pelahlar

Salah satu jenis pohon koleksi arboretum Nyaah ka Alam adalah Dipterocarpus retusus dengan nama lokal Keruing Gunung atau Pelahlar Minyak, yang merupakan salah satu jenis pohon niaga dari kelompok keruing. Jenis ini termasuk dalam suku merantimerantian Dipterocarpaceae. Pohonnya berbanir, tingginya mencapai 50 meter, garis tengah (diameter 150 meter). Batangnya tegak, lurus, dengan kulit luar yang berwarna abu-abu coklat dan mengelupas dalam kepingan besar.  

Daunnya tunggal, besar sekali, berbentuk jorong, agak berbulu. Perbungaan malai. Buahnya agak bulat, bersayap panjang dua dan sayap pendek tiga. Jenis ini terdapat di India, Burma, Thailand, Semenanjung Malaya, Sumatra,Jawa, Sumba, Sumbawa dan Timor. Tempat tumbuhnya hutan primer atau belukar tua, pada tanah liat, berpasir atau berbatu disepanjang sungai ataupun di tempat kering. Di daerah beriklim basah jenis ini tumbuh pada ketinggian 800-1300 meter di atas permukaan laut, sedangkan di daerah beriklim kering dapat tumbuh pada ketinggian 100 meter. Masa berbunga terjadi pada bulan Februari, Juni, September dan November dan masa berbuah pada bulan Januari, Februari, September dan November.

Kayu gubalnya tebal dan berwarna putih kekuningan sampai kuning tua. Keawetan dan kekuatan kayunya digolongkan dalam kelas III dan II, dan berat jenisnya 0,73.Kayu Pelahlar dapat dipakai sebagai bahan bangunan rumah, perahu dan kadang-kadang alat rumah tangga. Jenis ini belum pernah dibudidayakan kecuali penanaman beberapa pohon di Kebun Raya Bogor.

Selain dimanfaatkan kayunya keruing juga menghasilkan semacam oleoresin yang dikenal sebagai minyak keruing atau minyak lagan, akan tetapi hanya beberapa jenis saja yang mampu berproduksi dalam jumlah yang berarti untuk perdagangan. Secara local minyak ini digunakan untuk memakal (mendempul) perahu, sebagai pernis perabotan rumah atau dinding, serta sebagai obat luka atau sakit kulit tertentu. 

Status kelangkaan Dipterrocarpus retusus  Blume dalam IUCN Red List termasuk kategori Vulnerable (VU; Rentan) yang berarti spesies ini menghadapi resiko kepunahandi alam liar di waktuyangakan datang. 

Klasifikasi

Kingdom: Plantae
Subkingdom: Tracheobionta
Superdivisi: Spermatophyta
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Subkelas: Dilleniidae
Ordo: Theales
SpesiesDipterocarpus retusus Blume        

Kamis, 18 Desember 2025

RIMBUN ASA

 

RIMBUN ASA: Dari Bibit Menuju Harapan

"Kecil saat ditanam, besar saat dihayati"

TASIKMALAYA – Bumi tidak hanya membutuhkan mereka yang sekadar berharap, tetapi lebih banyak tangan yang mau menanam. Semangat inilah yang melandasi komunitas Nyaah ka Alam saat menggelar aksi nyata bertajuk "Rimbun Asa: Aksi Penanaman dan Pelatihan Pembibitan Pohon Langka".


Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 22 November 2025 ini, dipusatkan di Arboretum Pasir Bakukung, Dusun Serajaya, Desa Gunung Tanjung, Kabupaten Tasikmalaya. Langkah ini menjadi kontribusi nyata dalam mendukung target Indonesia’s FOLU Net Sink 2030—sebuah upaya nasional untuk melindungi keanekaragaman hayati, bahkan di luar kawasan konservasi formal.

Menghidupkan Kembali yang Mulai Hilang

Dalam aksi ini, sebanyak 300 batang bibit dari 40 jenis pohon ditanam. Tidak hanya menanam, peserta juga dibekali ilmu melalui pelatihan pembibitan generatif (menggunakan biji). Mulai dari biji berukuran besar seperti Ulin dan Saninten, hingga biji kecil seperti Rukam dan Serikaya.

Upaya ini merupakan metode pelestarian ex situ, yakni menjaga keberadaan flora di luar habitat aslinya. Arboretum Nyaah ka Alam kini berdiri sebagai "museum pohon" hidup yang telah mengoleksi lebih dari 60 jenis pohon dengan total lebih dari 500 batang, yang mayoritasnya merupakan spesies langka dan sulit ditemukan di alam liar.

Mengenal "Langka" dan Pentingnya Pembibitan

Secara harfiah, kata "Langka" merujuk pada sesuatu yang jarang ditemui dan memiliki nilai keunikan tinggi. Dalam dunia botani, pohon langka adalah spesies yang populasinya menurun drastis atau persebarannya sangat terbatas (endemik).

Untuk melawan kepunahan tersebut, proses pembibitan menjadi kunci. Melalui teknik generatif (perkawinan seksual tumbuhan), dihasilkan bibit dengan sistem perakaran yang kuat dan daya tahan penyakit yang tinggi. Proses yang dimulai dari penyemaian di media porous hingga pemeliharaan di bedeng sapih ini memastikan setiap pohon memiliki peluang hidup maksimal saat dipindahkan ke lahan permanen.





Sinergi Multi-Pihak untuk Alam

Keberhasilan acara ini tidak lepas dari kolaborasi 50 partisipan yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, kelompok perempuan, kader konservasi, hingga masyarakat setempat.

Kegiatan ini juga mendapat dukungan penuh dari berbagai instansi terkait. Turut hadir memberikan apresiasi:

·       Kepala Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Cimanuk Citanduy.

·       Ketua Forum Komunikasi Pengelolaan DAS Citanduy.

·       FKPDAS Jawa Barat (Wilayah Ciamis).

·       Pemerintah Desa Gunung Tanjung.

Melalui "Rimbun Asa", Nyaah ka Alam mengajak kita semua untuk menyadari bahwa setiap bibit yang kita tanam hari ini adalah oksigen dan warisan berharga bagi generasi masa depan. Karena menjaga alam bukan hanya soal ekologi, tapi soal menjaga harapan hidup itu sendiri.





Tentang Arboretum Pasir Bakukung:
Sebuah kawasan yang didedikasikan untuk penelitian, pendidikan, konservasi, dan rekreasi. Tempat di mana pohon-pohon langka dirawat agar tetap tegak berdiri menantang zaman.

Kamis, 02 Januari 2025

Arboretum Pasir Bakukung

Perubahan iklim menjadi salah satu permasalahan lingkungan global yang mendesak untuk ditangani. Konsentrasi gas rumah kaca saat ini berada pada level tertinggi dan terus meningkat mengakibatkan terjadinya peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut dan daratan bumi. 

Penyebab perubahan iklim

Aktivitas manusia telah menjadi penyebab utama perubahan iklim, terutama akibat pembakaran bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak dan gas. Pembukaan lahan dan hutan juga dapat melepaskan karbon dioksida. Tempat pembuangan sampah merupakan sumber utama emisi metana. Energi, industri, transportasi, bangunan, pertanian dan tata guna lahan termasuk di antara penghasil emisi utama.


Dampak perubahan iklim :

  • Suhu lebih panas 
  • Peningkatan kekeringan 
  • Peningkatan suhu dan volume lautan 
  • Kepunahan spesies 
  • Kekurangan makanan 
  • Peningkatan resiko kesehatan 
  • Kemiskinan 
Menurut National Geographic Indonesia (2019), peringkat keanekaragaman hayati daratan Indonesia adalah nomor dua setelah Brazil. Akan tetapi, jika keanekaragaman hayati daratan tersebut ditambahkan dengan keanekaragaman hayati lautan, maka Indonesia menjadi negara dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia.


Walaupun demikian, Indonesia juga dikenal sebagai Negara dengan penurunan keanekaragaman hayati (flora dan fauna) yang tinggi. Menurut Nasional Geografi Indonesia (2019), Indonesia menduduki urutan keenam sebagai Negara dengan kepunahan biodiversitas terbanyak.  

Untuk mencegah atau mengurangi laju kecepatan penurunan keanekaragaman hayati tersebut Indonesia perlu melakukan dan mengembangkan upaya-upaya konservasi, baik secara in-situ maupun ex situ. Konservasi in-situ adalah upaya pelestarian flora, fauna dan ekosistem di habitat aslinya atau di kawasan konservasi. Kawasan konservasi in-situ antara lain cagar alam, taman nasional, suaka margasatwa, taman buru, taman huta raya. Sedang konservasi ex-situ adalah upaya pelestarian tumbuhan dan hewan yang terancam punah di luar habitat aslinya. Konservasi ex-situ dilakukan dengan menempatkan spesies tersebut di lingkungan yang dikendalikan oleh manusia, seperti taman safari, kebun binatang, kebun raya, kebun koleksi.

Arboretum adalah kawasan koleksi berbagai jenis pohon yang berperan sebagai penyerap dan penyimpan karbon, serta membentuk iklim mikro sehingga memberikan suasana di dalam kawasan dan disekelilingnya menjadi sejuk dan nyaman. Pohon yang ditanam dan dikembangkan juga memiliki tujuan untuk penelitian, pendidikan dan konservasi ex situ.

Pasir bakukung merupakan Site Nyaah ka Alam seluas 2,3 ha secara administratif terletak di desa Gunung tanjung Kec. Gunung tanjung Kab. Tasikmalaya. Sejak tahun 2020 didedikasikan untuk kegiatan Nyaah ka Alam, dengan pemanfaatan antara lain arboretum, kemping area, budidaya pertanian (argoforestry), lokasi penelitian dan budidaya lebah teweul.



Melihat pentingnya arboretum sebagai upaya konservasi ex-situ, tempat pendidikan dan penelitian dan upaya mitigasi perubahan iklim, maka sejak tahun 2020 Nyaah ka Alam berkomitmen membuat aroboretum di Pasir Bakukung Site Nyaah ka Alam. 

1. Penanaman perdana di Arboretum mengambil momentum Hari Menanam Pohon Indonesia (HMPI) 2020







2. Penanaman pada kegiatan Ripple Accelerator Program - Women Earth's Alliance 2023.
Penanaman dilakukan untuk mendukung kegiatan budidaya lebah teweul yang dilaksanakan oleh kelopok wanita tani Alam Ceria yang merupakan kelompok perempuan binaan dari Nyaah ka Alam. 





3. Penanam pada kegiatan Climate Innovation Generation Program (CIGPro) - Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan 2024.





 


Sampai dengan tahun 2024, Arboretum Pasir Bakukung telah memiliki 35 jenis, baik pohon, tanaman obat dan tanaman hias. Sedang untuk jumlah pohon pada tiap jenis hanya sebanyak 1-5 pohon. 









Rencana berkelanjutan
  • Menambah jumlah jenis dan jumlah pohon 
  • Menjadi sumber perbanyakan baik secara generatif dan vegetatif
  • Menjadi lokasi pendidikan konservasi SDAH 
  • Manfaat ekonomi melalui produk HHBK 
  • Menjadi kawasan penyerapan karbon

Climate change is a global challenge that requires collective action. 
By raising awareness and adopting sustainable measures, we can protect the planet for future generations. 

Tentang Kami

Perempuan Berdaya dalam Ekonomi Lestari Budidaya Lebah Teuweul

Di Desa Gunung Tanjung, budidaya lebah teuweul bukan hanya tentang menghasilkan madu. Ia menjadi gerakan terpadu yang menghubungkan ekonomi ...