Cendana (Santalum album L.) merupakan jenis
tanaman asli Indonesia yang tumbuh endemik
di daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) yang
banyak dijumpai di Pulau Timor, Sumba, Alor,
Solor, Pantar, Flores, Roti dan pulau-pulau
lainnya. Tanaman cendana tergolong tanaman
yang sangat penting karena mempunyai nilai
ekonomi yang cukup tinggi. Cendana NTT
mempunyai keunggulan diantaranya memiliki
kadar minyak dan produksi kayu teras yang
tinggi. Kayu cendana menghasilkan minyak
atsiri dengan aroma yang harum dan banyak
digemari, sehingga mempunyai nilai pasar yang
cukup baik.
Cendana merupakan satu-satunya di
antara 22 jenis dari genus Santalum yang ada di dunia, tumbuh secara alami di Indonesia.
Secara morfologis tanaman cendana memiliki
karakteristik diantaranya pohon kecil sampai
sedang (Gambar 1), menggugurkan daun, dapat
mencapai tinggi 20 m dan diameter 40 cm, tajuk
ramping atau melebar, batang bulat agak
berlekuk-lekuk, akar tidak berbanir (Rudjiman,
1987). Daun cendana merupakan daun tunggal,
berwarna hijau, berukuran kecil-kecil yaitu (4–8)
cm x (2–4) cm dan relatif jarang. Bentuk daun
bulat memanjang, ujung daun lancip, dasar
daun lancip sampai seperti bentuk pasak,
pinggiran daunnya bergelombang dan tangkai
daun kekuning-kuningan dengan panjang 1 - 1,5
cm (Gambar 2).
Pohon cendana mempunyai ciri-ciri arsitektur tanaman berupa batang monopodial, mengarah ke atas, pertumbuhan kontinyu (Gambar 3).
Bunga tumbuh di ujung dan atau di ketiak daun
(Gambar 4). Berdasarkan ciri-ciri ini Rudjiman
(1987) menyimpulkan bahwa Santalum album L.
termasuk model arsitektur ROUX. Bentuk bunga
seperti payung menggarpu atau malai, dengan
hiasan bunga seperti tabung, berbentuk lonceng
dan panjangnya ± 1 mm, yang pada awalnya
berwarna kuning, kemudian berubah menjadi
merah gelap kecoklat-coklatan.
Inti kayu (empulur) cendana keras, serat-seratnya rapat, berwarna cokelat kekuningkuningan. Gubalnya berwarna putih dan tidak
berbau.
Pembentukan kayu teras dimulai pada
umur 4 – 6 tahun dan terbentuk sempurna pada
umur setelah 30 – 80 tahun. Teras kayu cendana
ada yang berwarna gelap dan ada pula yang
berwarna terang. Teras cendana yang berwarna
terang mengandung minyak lebih banyak
daripada yang berwarna gelap. Pertumbuhan
lingkar batang agak lambat yaitu sekitar 1 cm
per tahun dan pembentukan teras mencapai 1-2
kg per tahun.
Holmes (1983) menyebutkan bahwa dalam
taksonomi tumbuhan, pohon cendana diklasifikasikan sebagai berikut:
Divisio : Spermatophyta
Sub Divisio : Angiospermae
Kelas : Dicotyledoneae
Sub Kelas : Rosidae
Ordo : Santalales
Suku/Famili : Santalaceae
Marga/Genus : Santalum.
Jenis/Spesies : Santalum album Linn
Bentuk buah cendana merupakan buah
batu (drupe), jorong, kecil, berwarna merah
kehitam-hitaman dengan diameter ± 0,75 cm
(Gambar 5). Pada waktu masak daging kulit
buah berwarna hitam, mempunyai lapisan
eksocarp, mesocarp berdaging, endocarp keras.
Buah terletak di ujung ranting berjumlah 4 – 10
buah. Pohon cendana mulai berbunga dan
berbuah pada umur 5 tahun serta dan dalam 1
tahun berbuah sebanyak 2 kali.
Cendana tumbuh optimal pada daerah
dengan ketinggian 600-1000 m di atas
permukaan laut (mdpl) dengan curah hujan
antara 600-1.000 mmm/tahun dimana terdapat
bulan kering antara 9 - 10 bulan. Tanaman
cendana tumbuh sangat baik pada daerah
beriklim kering bertipe D3, D4 dan E4 (Oldeman
dan Frere, 1982) seperti di pulau Timor dan
pulau Sumba. Cendana yang tumbuh di daerah
dengan curah hujan tinggi tidak menghasilkan
kayu dengan kualitas baik walaupun secara baik
secara pertumbuhan vegetatifnya. Di propinsi
Nusa Tenggara Timur, terdapat banyak daerah
dengan tipe iklim D3, D4 dan E4 sehingga
sangat potensial untuk pengembangan budidaya
cendana dimasa mendatang diantaranya di
Pulau Sumba dan Pulau Timor yang
diperkirakan mencapai > 1,7 juta ha (Badan
Penelitian dan Pengembangan Kehutanan
Kupang, 2011).
endana merupakan sumber penghasil
minyak atsiri dan merupakan komoditi hasil
hutan bukan kayu yang potensial dan tergolong
mewah karena sifat kayu terasnya yang khas
dan mengandung minyak dengan aroma yang
spesifik. Pembuatan minyak cendana dapat
dilakukan dengan memanfaatkan batang kayu,
ranting, cabang ranting, dan akar pohon
cendana. Nilai ekonomi tanaman cendana didapat dari kandungan minyak (santalol) dalam
kayu yang beraroma wangi yang khas. Minyak
atsiri yang terkandung pada kayu cendana
merupakan golongan senyawa sesquiterpenoid
diantaranya α-santalol dan -santalol. Interaksi
antara faktor genetik tanaman dengan lingkungan merupakan faktor utama yang
menentukan pertumbuhan dan perkembangan
tanaman cendana yang pada akhirnya
berpengaruh terhadap produksi minyak atsiri
yang dihasilkan. Diperlukan upaya rekayasa
terhadap faktor-faktor yang terkait dengan
ektraksi minyak cendana sehingga produksi
maksimal dicapai baik secara kuantitas maupun
kualitas. Minyak cendana memiliki nilai fungsi
yang tinggi diantaranya sebagai bahan aroma
terapi yang sangat bermanfaat bagi kesehatan
manusia, bahan kosmetik, dan bahan untuk
obat-obatan.