Di Desa Gunung Tanjung, budidaya lebah teuweul bukan hanya tentang menghasilkan madu. Ia menjadi gerakan terpadu yang menghubungkan ekonomi keluarga, kesehatan anak, dan kelestarian hutan dalam satu ekosistem pemberdayaan perempuan.
Melalui inisiatif kelompok perempuan, Nyaah ka Alam mendorong ibu rumah tangga untuk terlibat aktif dalam usaha berbasis sumber daya alam berkelanjutan, sekaligus menghadirkan solusi nyata untuk persoalan kesejahteraan dan kesehatan keluarga. Kegiatan ini adalah bagian program Ripple Accelerator - Women's Earth Alliance yang diinisiasi oleh anggota aliansinya yaitu Irma Fatmayanti Cohort 2021.
🐝 Madu: Sumber Gizi Alami untuk Keluarga
Salah satu manfaat utama budidaya lebah teuweul adalah produksi madu alami yang kaya nutrisi. Madu mengandung:
Karbohidrat alami sebagai sumber energi
Antioksidan
Enzim dan senyawa antibakteri
Mineral dan mikronutrien penting
Bagi keluarga di desa, ketersediaan madu lokal berkualitas dapat menjadi alternatif pemanis sehat sekaligus suplemen alami yang menunjang daya tahan tubuh.
Dalam konteks pencegahan stunting, akses terhadap pangan bergizi menjadi faktor krusial. Stunting bukan hanya soal tinggi badan anak, tetapi dampak jangka panjang dari kekurangan gizi kronis yang memengaruhi perkembangan kognitif dan kesehatan masa depan.
Melalui program ini:
Ibu rumah tangga memiliki akses langsung terhadap produk bergizi.
Pendapatan tambahan dari madu membantu keluarga memenuhi kebutuhan pangan bergizi lainnya.
Edukasi gizi dapat diintegrasikan dalam kegiatan kelompok perempuan.
Dengan demikian, budidaya lebah tidak hanya meningkatkan ekonomi, tetapi juga berkontribusi pada SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, khususnya dalam mendukung upaya penurunan angka stunting.

🌿 Ekonomi Lestari yang Menjaga Hutan
Lebah hanya dapat berkembang di lingkungan yang sehat. Artinya, keberhasilan usaha ini sangat bergantung pada:
Keberadaan tanaman berbunga
Tutupan lahan yang terjaga
Ekosistem hutan yang berfungsi baik
Hal ini menciptakan insentif ekonomi bagi masyarakat untuk menjaga dan memperluas vegetasi. Program ini secara langsung mendukung:
SDG 13 – Penanganan Perubahan Iklim, melalui peningkatan vegetasi dan daya serap karbon
SDG 15 – Ekosistem Darat, melalui penguatan praktik Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK)
Semakin lestari hutannya, semakin produktif lebahnya. Semakin produktif lebahnya, semakin sejahtera keluarganya.

👩🌾 Dampak Multidimensi Program
1️⃣ Dampak Kesehatan & Gizi
Meningkatnya akses keluarga terhadap madu alami bergizi
Potensi penguatan daya tahan tubuh anak
Integrasi edukasi gizi dalam kelompok perempuan
Kontribusi tidak langsung pada pencegahan stunting melalui peningkatan asupan dan daya beli pangan sehat
2️⃣ Dampak Ekonomi
Lapangan pekerjaan sekunder bagi 20 ibu rumah tangga
Sumber pendapatan tambahan berkelanjutan
Tumbuhnya kewirausahaan perempuan berbasis alam
3️⃣ Dampak Sosial
Terbentuknya ruang aman bagi perempuan untuk belajar dan berkembang
Meningkatnya kepercayaan diri dan posisi tawar perempuan
Solidaritas dan ketahanan sosial desa yang lebih kuat
4️⃣ Dampak Lingkungan
Meningkatnya penutupan lahan
Konservasi berbasis insentif ekonomi
Optimalisasi potensi Hasil Hutan Bukan Kayu
🌱 Lebah sebagai Strategi Terpadu Desa Tangguh
Budidaya lebah teuweul menunjukkan bahwa solusi pembangunan desa tidak harus eksploitatif. Dengan pendekatan yang tepat, alam bisa dijaga sekaligus dimanfaatkan secara bijak.
Di Gunung Tanjung, lebah menjadi jembatan antara:
Perempuan yang berdaya
Anak-anak yang lebih sehat
Keluarga yang lebih sejahtera
Hutan yang tetap lestari
Karena pada akhirnya, mencegah stunting bukan hanya soal intervensi medis—
tetapi juga tentang memperkuat ekonomi keluarga, meningkatkan akses gizi, dan menjaga lingkungan tempat anak-anak tumbuh.
Dan di sana, dengung lebah menjadi suara perubahan.
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)

.png)






.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)

.jpeg)




.jpeg)









.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)