Kontak

Kontak : nyaahkaalam@gmail.com

Sabtu, 02 Mei 2026

Cendana

Cendana (Santalum album L.) merupakan jenis tanaman asli Indonesia yang tumbuh endemik di daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) yang banyak dijumpai di Pulau Timor, Sumba, Alor, Solor, Pantar, Flores, Roti dan pulau-pulau lainnya. Tanaman cendana tergolong tanaman yang sangat penting karena mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi. Cendana NTT mempunyai keunggulan diantaranya memiliki kadar minyak dan produksi kayu teras yang tinggi. Kayu cendana menghasilkan minyak atsiri dengan aroma yang harum dan banyak digemari, sehingga mempunyai nilai pasar yang cukup baik. Cendana merupakan satu-satunya di antara 22 jenis dari genus Santalum yang ada di dunia, tumbuh secara alami di Indonesia.

Secara morfologis tanaman cendana memiliki karakteristik diantaranya pohon kecil sampai sedang (Gambar 1), menggugurkan daun, dapat mencapai tinggi 20 m dan diameter 40 cm, tajuk ramping atau melebar, batang bulat agak berlekuk-lekuk, akar tidak berbanir (Rudjiman, 1987). Daun cendana merupakan daun tunggal, berwarna hijau, berukuran kecil-kecil yaitu (4–8) cm x (2–4) cm dan relatif jarang. Bentuk daun bulat memanjang, ujung daun lancip, dasar daun lancip sampai seperti bentuk pasak, pinggiran daunnya bergelombang dan tangkai daun kekuning-kuningan dengan panjang 1 - 1,5 cm (Gambar 2). 

Pohon cendana mempunyai ciri-ciri arsitektur tanaman berupa batang monopodial, mengarah ke atas, pertumbuhan kontinyu (Gambar 3). Bunga tumbuh di ujung dan atau di ketiak daun (Gambar 4). Berdasarkan ciri-ciri ini Rudjiman (1987) menyimpulkan bahwa Santalum album L. termasuk model arsitektur ROUX. Bentuk bunga seperti payung menggarpu atau malai, dengan hiasan bunga seperti tabung, berbentuk lonceng dan panjangnya ± 1 mm, yang pada awalnya berwarna kuning, kemudian berubah menjadi merah gelap kecoklat-coklatan. Inti kayu (empulur) cendana keras, serat-seratnya rapat, berwarna cokelat kekuningkuningan. Gubalnya berwarna putih dan tidak berbau.

 Pembentukan kayu teras dimulai pada umur 4 – 6 tahun dan terbentuk sempurna pada umur setelah 30 – 80 tahun. Teras kayu cendana ada yang berwarna gelap dan ada pula yang berwarna terang. Teras cendana yang berwarna terang mengandung minyak lebih banyak daripada yang berwarna gelap. Pertumbuhan lingkar batang agak lambat yaitu sekitar 1 cm per tahun dan pembentukan teras mencapai 1-2 kg per tahun. 

Holmes (1983) menyebutkan bahwa dalam taksonomi tumbuhan, pohon cendana diklasifikasikan sebagai berikut: 

Divisio : Spermatophyta 

Sub Divisio : Angiospermae 

Kelas : Dicotyledoneae 

Sub Kelas : Rosidae 

Ordo : Santalales 

Suku/Famili : Santalaceae 

Marga/Genus : Santalum. 

Jenis/Spesies : Santalum album Linn

Bentuk buah cendana merupakan buah batu (drupe), jorong, kecil, berwarna merah kehitam-hitaman dengan diameter ± 0,75 cm (Gambar 5). Pada waktu masak daging kulit buah berwarna hitam, mempunyai lapisan eksocarp, mesocarp berdaging, endocarp keras. Buah terletak di ujung ranting berjumlah 4 – 10 buah. Pohon cendana mulai berbunga dan berbuah pada umur 5 tahun serta dan dalam 1 tahun berbuah sebanyak 2 kali.

Cendana tumbuh optimal pada daerah dengan ketinggian 600-1000 m di atas permukaan laut (mdpl) dengan curah hujan antara 600-1.000 mmm/tahun dimana terdapat bulan kering antara 9 - 10 bulan. Tanaman cendana tumbuh sangat baik pada daerah beriklim kering bertipe D3, D4 dan E4 (Oldeman dan Frere, 1982) seperti di pulau Timor dan pulau Sumba. Cendana yang tumbuh di daerah dengan curah hujan tinggi tidak menghasilkan kayu dengan kualitas baik walaupun secara baik secara pertumbuhan vegetatifnya. Di propinsi Nusa Tenggara Timur, terdapat banyak daerah dengan tipe iklim D3, D4 dan E4 sehingga sangat potensial untuk pengembangan budidaya cendana dimasa mendatang diantaranya di Pulau Sumba dan Pulau Timor yang diperkirakan mencapai > 1,7 juta ha (Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Kupang, 2011).

endana merupakan sumber penghasil minyak atsiri dan merupakan komoditi hasil hutan bukan kayu yang potensial dan tergolong mewah karena sifat kayu terasnya yang khas dan mengandung minyak dengan aroma yang spesifik. Pembuatan minyak cendana dapat dilakukan dengan memanfaatkan batang kayu, ranting, cabang ranting, dan akar pohon cendana. Nilai ekonomi tanaman cendana didapat dari kandungan minyak (santalol) dalam kayu yang beraroma wangi yang khas. Minyak atsiri yang terkandung pada kayu cendana merupakan golongan senyawa sesquiterpenoid diantaranya α-santalol dan -santalol. Interaksi antara faktor genetik tanaman dengan lingkungan merupakan faktor utama yang menentukan pertumbuhan dan perkembangan tanaman cendana yang pada akhirnya berpengaruh terhadap produksi minyak atsiri yang dihasilkan. Diperlukan upaya rekayasa terhadap faktor-faktor yang terkait dengan ektraksi minyak cendana sehingga produksi maksimal dicapai baik secara kuantitas maupun kualitas. Minyak cendana memiliki nilai fungsi yang tinggi diantaranya sebagai bahan aroma terapi yang sangat bermanfaat bagi kesehatan manusia, bahan kosmetik, dan bahan untuk obat-obatan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tentang Kami

DAMAR

  Pohon  damar  ( Agathis alba   (Rumph. ex Valmont) Foxw. ) adalah sejenis  pohon  anggota tumbuhan runjung ( Gymnospermae ) yang merupakan...