Kontak

Kontak : nyaahkaalam@gmail.com

Rabu, 11 Februari 2026

Perempuan Berdaya dalam Ekonomi Lestari Budidaya Lebah Teuweul

Di Desa Gunung Tanjung, budidaya lebah teuweul bukan hanya tentang menghasilkan madu. Ia menjadi gerakan terpadu yang menghubungkan ekonomi keluarga, kesehatan anak, dan kelestarian hutan dalam satu ekosistem pemberdayaan perempuan.

Melalui inisiatif kelompok perempuan, Nyaah ka Alam mendorong ibu rumah tangga untuk terlibat aktif dalam usaha berbasis sumber daya alam berkelanjutan, sekaligus menghadirkan solusi nyata untuk persoalan kesejahteraan dan kesehatan keluarga. Kegiatan ini adalah bagian program Ripple Accelerator - Women's Earth Alliance yang diinisiasi oleh anggota aliansinya yaitu Irma Fatmayanti Cohort 2021. 

  


🐝 Madu: Sumber Gizi Alami untuk Keluarga

Salah satu manfaat utama budidaya lebah teuweul adalah produksi madu alami yang kaya nutrisi. Madu mengandung:

  • Karbohidrat alami sebagai sumber energi

  • Antioksidan

  • Enzim dan senyawa antibakteri

  • Mineral dan mikronutrien penting

Bagi keluarga di desa, ketersediaan madu lokal berkualitas dapat menjadi alternatif pemanis sehat sekaligus suplemen alami yang menunjang daya tahan tubuh.

Dalam konteks pencegahan stunting, akses terhadap pangan bergizi menjadi faktor krusial. Stunting bukan hanya soal tinggi badan anak, tetapi dampak jangka panjang dari kekurangan gizi kronis yang memengaruhi perkembangan kognitif dan kesehatan masa depan.

Melalui program ini:

  • Ibu rumah tangga memiliki akses langsung terhadap produk bergizi.

  • Pendapatan tambahan dari madu membantu keluarga memenuhi kebutuhan pangan bergizi lainnya.

  • Edukasi gizi dapat diintegrasikan dalam kegiatan kelompok perempuan.

Dengan demikian, budidaya lebah tidak hanya meningkatkan ekonomi, tetapi juga berkontribusi pada SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, khususnya dalam mendukung upaya penurunan angka stunting.

  

🌿 Ekonomi Lestari yang Menjaga Hutan

Lebah hanya dapat berkembang di lingkungan yang sehat. Artinya, keberhasilan usaha ini sangat bergantung pada:

  • Keberadaan tanaman berbunga

  • Tutupan lahan yang terjaga

  • Ekosistem hutan yang berfungsi baik

Hal ini menciptakan insentif ekonomi bagi masyarakat untuk menjaga dan memperluas vegetasi. Program ini secara langsung mendukung:

  • SDG 13 – Penanganan Perubahan Iklim, melalui peningkatan vegetasi dan daya serap karbon

  • SDG 15 – Ekosistem Darat, melalui penguatan praktik Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK)

Semakin lestari hutannya, semakin produktif lebahnya. Semakin produktif lebahnya, semakin sejahtera keluarganya.


👩‍🌾 Dampak Multidimensi Program

1️⃣ Dampak Kesehatan & Gizi

  • Meningkatnya akses keluarga terhadap madu alami bergizi

  • Potensi penguatan daya tahan tubuh anak

  • Integrasi edukasi gizi dalam kelompok perempuan

  • Kontribusi tidak langsung pada pencegahan stunting melalui peningkatan asupan dan daya beli pangan sehat

2️⃣ Dampak Ekonomi

  • Lapangan pekerjaan sekunder bagi 20 ibu rumah tangga

  • Sumber pendapatan tambahan berkelanjutan

  • Tumbuhnya kewirausahaan perempuan berbasis alam

3️⃣ Dampak Sosial

  • Terbentuknya ruang aman bagi perempuan untuk belajar dan berkembang

  • Meningkatnya kepercayaan diri dan posisi tawar perempuan

  • Solidaritas dan ketahanan sosial desa yang lebih kuat

4️⃣ Dampak Lingkungan

  • Meningkatnya penutupan lahan

  • Konservasi berbasis insentif ekonomi

  • Optimalisasi potensi Hasil Hutan Bukan Kayu


🌱 Lebah sebagai Strategi Terpadu Desa Tangguh

Budidaya lebah teuweul menunjukkan bahwa solusi pembangunan desa tidak harus eksploitatif. Dengan pendekatan yang tepat, alam bisa dijaga sekaligus dimanfaatkan secara bijak.

Di Gunung Tanjung, lebah menjadi jembatan antara:

  • Perempuan yang berdaya

  • Anak-anak yang lebih sehat

  • Keluarga yang lebih sejahtera

  • Hutan yang tetap lestari

Karena pada akhirnya, mencegah stunting bukan hanya soal intervensi medis—
tetapi juga tentang memperkuat ekonomi keluarga, meningkatkan akses gizi, dan menjaga lingkungan tempat anak-anak tumbuh.

Dan di sana, dengung lebah menjadi suara perubahan. 



                                    



                                                                              

 

Ripple Accelerator





Lebih dekat dengan founder dan ketua Nyaah ka Alam

 



🌿 Irma Fatmayanti: Membangun Gerakan Cinta Alam dari Komunitas

Di tengah tantangan perubahan iklim dan degradasi lingkungan, muncul sosok-sosok yang tak sekadar peduli, tapi beraksi nyata untuk menjaga bumi tetap lestari. Salah satunya adalah Irma Fatmayanti, seorang aktivis lingkungan yang memilih langkah kecil sebagai gerakan besar melalui komunitas bernama Nyaah Ka Alam.

Berangkat dari Kepedulian yang Mendalam

Irma tidak lahir dengan label “aktivis lingkungan”; perjalanan itu dibentuk dari kesadaran atas kondisi alam di sekitarnya yang semakin rapuh. Bagi Irma, alam bukan sekadar latar belakang kehidupan, tetapi bagian tak terpisahkan dari keseharian manusia. Dari pemikiran inilah ia membangun Nyaah Ka Alam — sebuah upaya memberi makna baru terhadap hubungan antara manusia dan alam.

Nama Nyaah Ka Alam sendiri membawa semangat kuat: “menyayangi alam” dalam setiap langkah nyata, bukan sekadar retorika.

🌱 Pendekatan Konservasi yang Berakar di Komunitas

Beda dengan gerakan lingkungan yang sering tampil besar di panggung nasional, Irma memilih jalur yang lebih dalam, personal, dan partisipatif: konservasi berbasis komunitas. Ia mengajak warga untuk belajar langsung dari alam, bukan hanya teorinya.

Nyaah Ka Alam mengembangkan ruang-ruang belajar terbuka yang disebut arboretum atau taman konservasi mini, yang menjadi pusat edukasi tentang keanekaragaman hayati dan ekosistem lokal. Di sana, masyarakat—terutama anak muda—bisa merasakan, menyentuh, dan memahami alam sebagai guru yang memberi pelajaran tak ternilai.

🎓 Pemberdayaan Melalui Pendidikan & Kolaborasi

Bagi Irma, konservasi sejati adalah saat ilmu dan aksi berpadu. Program-program yang digagas Nyaah Ka Alam tidak sekadar menanam pohon, tetapi juga mengajak orang untuk:

  • Memahami pentingnya keanekaragaman hayati

  • Mengetahui hubungan antara aktivitas manusia dan perubahan iklim

  • Melatih keterampilan langsung seperti pembuatan persemaian tanaman, praktik pemeliharaan lingkungan, dan monitoring ekosistem

Selain itu, Irma juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas pihak—dari warga desa, instansi pemerintah, hingga jaringan organisasi lingkungan lain.

🏅 Penghargaan dan Pengakuan untuk Dedikasi Nyata

Komitmen Irma dalam konservasi lingkungan telah diakui secara formal. Ia mendapatkan beberapa prestasi penting, termasuk:

  • 🥇 Juara 1 Lomba Wana Lestari 2023 tingkat Cabang Dinas Kehutanan Wilayah VI Jawa Barat, kategori Kader Konservasi Alam

  • 🥉 Juara 3 Lomba Wana Lestari 2023 tingkat Provinsi Jawa Barat, kategori Kader Konservasi Alam

Selain prestasi tersebut, Irma juga memperoleh pengakuan sebagai Kader Konservasi Alam Tingkat Madya dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Jawa Barat—sebuah bukti konkret atas kompetensi dan komitmennya dalam upaya pelestarian lingkungan.

🌍 Jejaring Global: Women’s Earth Alliance (WEA) 2021

Tidak hanya berkiprah di level lokal, Irma juga pernah terpilih mengikuti Women’s Earth Alliance (WEA) Grassroots Accelerator pada tahun 2021. Program internasional ini mendukung perempuan pemimpin lingkungan dari berbagai negara untuk memperkuat kapasitas, memperluas jejaring, dan mengembangkan solusi inovatif terhadap tantangan ekologis. Pengalaman ini memperkuat langkah Irma dalam memperluas dampak gerakannya sekaligus membuka ruang kolaborasi global.

💬 Menjadi Bagian dari Solusi

Irma sering menyampaikan bahwa menjaga alam bukan tanggung jawab satu orang atau satu komunitas saja. Melalui pendekatan edukatif, kelompok belajar berbasis alam, dan aksi nyata di lapangan, ia membangun gerakan yang mengajak setiap individu untuk menjadi bagian dari solusi.

Baginya, alam adalah ruang hidup bersama — yang perlu dirawat dengan kesadaran, ilmu, dan rasa sayang.


🌟 Pesan untuk Pembaca

Irma Fatmayanti menunjukkan bahwa aksi kecil yang konsisten bisa menjadi kekuatan besar dalam menjaga bumi. Ketika kita melihat alam bukan hanya sebagai sumber daya, tetapi sebagai ruang hidup yang harus dihormati dan dirawat, perubahan itu dimulai dari diri sendiri — dan terus menyebar kepada komunitas yang lebih luas.



Tentang Kami

Perempuan Berdaya dalam Ekonomi Lestari Budidaya Lebah Teuweul

Di Desa Gunung Tanjung, budidaya lebah teuweul bukan hanya tentang menghasilkan madu. Ia menjadi gerakan terpadu yang menghubungkan ekonomi ...